Blogroll

Radio SWK FM Inspirasi Dinamika Orang Nganjuk

Rabu, 17 Agustus 2011

Membangun Remaja Indonesia Yang Pluralis Melalui Radio Komunitas

Mewujudkan sebuah perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia seharusnya menjadi satu misi sekaligus tantangan bagi remaja dan setiap generasi penerus bangsa saat ini dan masa yang akan datang. Melalui misi inilah pluralisme menjadi sangat penting sebagai mainstream untuk jalan perdamaian. Pluralisme akan mendialektikakan gagasan kepentingannya dalam mewujudkan kesamaan hak dan keadilan bagi sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, dan ras.



Dalam kehidupan sehari hari, harus kita sadari memang ada perbedaan yang mendasar antar warga negara yang terkait dengan suku, agama dan ras, juga ada aktor yang menjadi pengembang, penggembira, pemicu konflik atas kepetingan ekonomis, politis, juga visiologis. Dalam kontek ini sering kali kita terlambat menyadari bahwa kita juga berada di pusaran arus kepentingan, yang akhirnya menyeret kita pada berfikir, bertindak yang kurang kritis terhadap tujuan pluralisme itu sendiri.

Salah satu yang menjadi penyebab tidak terjadinya penghormatan dan penghargaan atas keberagaman adalah kuatnya pemahaman fundamentalisme di tingkat individu maupun kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara. Fundamentalisme mengandung di dalamnya nilai-nilai patriarchal dan feodal. Fundamentalisme juga menganut faham anti demokrasi, anti pluralisme dan anti multikulturalisme. Indonesia memiliki potensi menghadapi masalah global yaitu konflik fundamentalisme dan anti pluralisme yang terjadi di beberapa wilayah.

Sebagai suatu konsep, fundamentalisme seringkali terkait dengan fenomena keagamaan; penolakan terhadap dunia sebagai reaksi terhadap perubahan sosial dan kultur yang dipersepsikannya sebagai krisis dan reaksi defensif dengan berupaya mempertahankan atau merestorasi tatanan sosial masa lalu yang diidealkan atau diimajinasikan sebagai yang paling otentik dan benar.

Ketidaktoleran atas keberagaman itu bisa berasal dari perbedaan agama, suku, ras dan budaya. Dalam konteks konflik antar masyarakat banyak terjadi di lokasi yang mengalami ekskalasi konflik yang sangat tinggi. Kasus konflik antar masyarakat di Indonesia yang berdimensikan SARA sering timbul secara sporadis ataupun masif seperti konflik di Aceh, Poso, Dayak, dan Ambon. Itulah sebabnya perlu adanya mainstream dan gerakan pluralisme yang dimulai sejak usia dini (remaja).

Perserikatan Bangsa-bangsa mendefinisikan anak muda sebagai individu berumur 15-24 tahun. Remaja dan dewasa muda masuk di dalamnya. Pada 2005, jumlah pemuda-pemudi di seluruh dunia tercatat 1,02 miliar orang atau 15,8 persen dari populasi dunia yang berjumlah 6,47 miliar orang. Jumlah anak muda pada tahun 2025 diperkirakan melonjak menjadi 1,22 miliar. (sumber: situs web Perserikatan Bangsa-bangsa).

Remaja sebagai bagian komunitas aktif yang ada di sebuah negara, masih cukup minim mendapat pengetahuan dan pemahaman tentang pluralisme. Ada beberapa persoalan krusial yang menjadi penyebab remaja kurang paham tentang nilai nilai pluralisme, Pertama; Remaja sering dianggap sebagai sosok yang tidak tau apa apa, kelompok/ komunitas yang mendapat stigma negatif dan terpinggirkan dari masyarakat, Kedua; Pemerintah Indonesia kurang melibatkan peran remaja dalam proses pembangunan perdamaian, Ketiga; Sistem pendidikan yang kurang mempertajam pemahaman remaja tentang pluralisme sesuai dengan konteksnya.

Minimnya pemahaman dan praktek sikap saling menghormati perbedaan dan keberagaman oleh remaja akan membawa dampak yang cukup besar bagi masa depan Negara Indonesia. Bagaimanapun juga remaja adalah calon generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan cita cita mewujudkan perdamaian di seluruh pelosok Indonesia dan dunia.

Ada beberapa dampak yang akan timbul ketika remaja sudah mulai cuek dan tidak peduli akan pentingnya nilai nilai pluralisme di tingkat internal dan eksternal negaranya. Pertama; Semakin menguatnya benih benih konflik fundamentalisme yang bisa berdampak laten bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara kedepan, yang pada giliranya akan terjadi naiknya eskalasi konflik kekerasan berbasis perbedaan suku, agama, ras yang dilakukan oleh negara pada rakyat nya atau dilakukan masyarakat sipil kepada masyarakat sipil lain. Kedua; Remaja akan mudah terprovokasi oleh kelompok kelompok fundamentalis eklusif yang tidak menghargai perbedaan, pada situasi ini akan mudah terjadi mis komunikasi dan dis informasi antar remaja di Indonesia. Ketiga; Munculnya berbagai bentuk dis-orientasi di berbagai kalangan masyarakat, misalnya, menurunnya penghargaan terhadap suku dan kebudayaan orang lain, memojokkan kaum minoritas, kekerasan terhadap kelompok suku tertentu.

Salah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan serta memperkuat pemahaman remaja tentang gerakan pluralisme adalah melalui radio komunitas. Radio komunitas ini dapat digunakan oleh berbagai komunitas kepentingan, baik  berbasis komunitas kelas sosial, maupun komunitas sektoral kepentingan, serta komunitas yang homogen (satu entitas yang sama misal; sama pekerjaan, sama afiliasi ideologi, sama afiliasi politik atau sama hobi), juga berbasis komunitas territorial/ wilayah.

Radio komunitas yang dimaksud adalah radio yang keberadaan nya dibutuhkan sebagai manifestasi dari kesadaran masyarakat akan hak informasi dan pengelolaan informasi yang berimbang, dalam cara berfikir seperti ini masyarakat yang mengelola informasi melalui radio komunitas akan memperjuangkan kepentingan perdamaian sehingga radio komunitas akan menjadi media pengembangan budaya damai komunitas, penguat inkulturasi dan akulturasi budaya antar komunitas, dan media dokumentasi perdamaian komunitas.

Selanjutnya melalui Radio Komunitas, remaja bisa dilibatkan dalam pengelolaan program gerakan pluralisme, seperti produksi ILM, Feature maupun Talkshow interaktif. Untuk membangun remaja pluralis kita juga perlu mengajak seluruh radio komunitas yang ada di Indonesia untuk bersama sama menjadi jembatan komunikasi antar remaja Indonesia yang ada di seluruh pelosok negeri.

Diharapkan dengan adanya penyediaan dan sharing informasi antar remaja Indonesia melalui radio komunitas akan membangun pemahaman dan mainstream pluralisme remaja sejak usia dini, sehingga remaja tidak mudah terprovokasi oleh beberapa kelompok kepentingan politik kekuasaan, ekonomi kapitalistik yang memanfaatkan mereka. Serta bertujuan untuk mewujudkan generasi penerus yang menghormati kesetaraan, keadilan dan penghormatan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

0 komentar

Poskan Komentar